Tauhid, berasal dari bahasa Arab
dengan dasar kata wahhada-yuwahhidu. Yang artinya adalah Esa, atau satu yang
satu-satunya. Atau kata kerjanya adalah meng-Esakan. Artinya tidak menduakan
dan tidak ada upaya untuk menyelingkuhi. Dengan makna lain, setia dalam
puncak-puncaknya setia. Ini pendapat saya lho yang saya tulis, kalau ada yang
mau bilang ini nyadur dari buku, peduli amat lah.
Tauhid ini yang jelas bukan soal
ikrar di mulut, ini berkenaan dengan perasaan dan perbuatan. Saya tidak akan
membahas mengenai jenis-jenis Tauhid atau pendapat para ulama tentang Tauhid,
toh sudah tahu juga bisa cepat kita lupakan. Saya ingin mengajak kita semua
manusia untuk bisa mesra dengan Sang Maha Pencipta melalui pemahaman Tauhid
ini.
Hadir pertanyaan yang sangat
sederhana, apa makna Laa ilaha ilallah. Apa kalimat ini dihadirkan oleh Islam,
atau sudah dibawa sejak jauh sebelum itu? Jika kita
rangkum
sesingkat-singkatnya, ajaran Islam yang hadir kepada manusia adalah untuk
menegakkan kalimat ini, ingat! menegakkan, bukan hanya mengucapkannya. Anak TK
pun sanggup mengucapkannya ratusan kali kalau mau. Beriman dan mentiadakan
apapun kecuali Sang Maha Kuasa, itulah ajaran agama yang dibawa oleh Muhammad
bin Abdullah. Meniadakan apapun, karena yang Ada hanyalah Dia.
Hadirnya seluruh nabi, bergantinya
zaman di manapun, dari nabi ke nabi memiliki tujuan untuk menyampaikan ajaran
yang sama, yaitu Tauhid. Silakan percaya atau tidak, yang atheis pasti tidak,
tapi tidak masalah, bahwa Iman akan menuntun manusia menuju jalan yang terang,
menggeser mereka dari kegelapan, dan membawa hidup yang lebih baik. Keimanan.
Seluruh Nabi diperintahkan untuk
menegakkan kalimat laa ilaha ilallah, melalui bahasa kaumnya masing-masing.
Individualitas
Beriman
Iman itu individualitas, Tuhan akan
kamu temukan dengan caramu sendiri, dengan pemahamanmu sendiri. Orang yang
mengajarimu hanya memantik api pencarianmu. Jangan dewakan dia, apalagi
menganggapnya sebagai sumber kebenaran. Al Quran sendiri yang mengatakan bahwa
setiap orang akan ditanya pertanggung jawabannya masing-masing, orang
per-orang. Ini sudah sangat menunjukkan bahwa iman itu dicari oleh
masing-masing diamalkan oleh masing-masing dan dipahami oleh masing-masing.
Satu hal yang penting dalam beriman
dan Tauhid adalah Jangan ada penyamaan persepsi. Setiap orang berhak mepersepsi
keimanan sesuai dengan caranya masing-masing. Setiap nabi diutus untuk membawa
cahaya, membawa ajarannya masing-masing. Nabi yang diturunkan ke suatu kaum di
suatu zaman, mengindikasikan adanya kegelapan yang harus diterangi pada saat
itu. Yang mengikuti cahayanya akan sampai ke tempat tujuan, yaitu pos estafet
pergantian pemegang cahaya yang berikutnya. Pengikut nabi sebelumnya juga harus
mengikut nabi setelahnya, karena pada dia cahaya itu tengah dibawa, hingga
datang nabi yang menutup seluruh nabi, menandakan kegelapan hampir berakhir.
Ketika kegelapan hilang sudah tidak
dibutuhkan lagi cahaya, yang dibutuhkan hanya peta, peta itu yang harus dibawa
oleh masing-masing orang. Peta itulah Al
Quran, setiap orang memegang Al Qurannya masing-masing, bukan melakukan
penyamaan persepsi, melainkan setiap orang memaksimalkan akalnya untuk memahami
Quran.
Dengan begitulah kita melakukan
kemandirian beragama, itulah Tauhid, kita menemukan Tuhan, dan mengimaninya,
meniadakan yang lain selain diriNya dengan cara kita sendiri. Itulah Tauhid
yang sesungguhnya, keberanian untuk hanya mendengarkan Sang Maha Pencipta,
bukan manusia lain. Mereka adalah teman yang sama yang juga berusaha
mencariNya. Dalam kehidupan, menjadi pembelajar dan terus menerus menemukan
hikmah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar