Selasa, 06 Januari 2015

MANDIRI DALAM BERTAUHID

Tauhid, berasal dari bahasa Arab dengan dasar kata wahhada-yuwahhidu. Yang artinya adalah Esa, atau satu yang satu-satunya. Atau kata kerjanya adalah meng-Esakan. Artinya tidak menduakan dan tidak ada upaya untuk menyelingkuhi. Dengan makna lain, setia dalam puncak-puncaknya setia. Ini pendapat saya lho yang saya tulis, kalau ada yang mau bilang ini nyadur dari buku, peduli amat lah.

Tauhid ini yang jelas bukan soal ikrar di mulut, ini berkenaan dengan perasaan dan perbuatan. Saya tidak akan membahas mengenai jenis-jenis Tauhid atau pendapat para ulama tentang Tauhid, toh sudah tahu juga bisa cepat kita lupakan. Saya ingin mengajak kita semua manusia untuk bisa mesra dengan Sang Maha Pencipta melalui pemahaman Tauhid ini.

Hadir pertanyaan yang sangat sederhana, apa makna Laa ilaha ilallah. Apa kalimat ini dihadirkan oleh Islam, atau sudah dibawa sejak jauh sebelum itu? Jika kita
rangkum sesingkat-singkatnya, ajaran Islam yang hadir kepada manusia adalah untuk menegakkan kalimat ini, ingat! menegakkan, bukan hanya mengucapkannya. Anak TK pun sanggup mengucapkannya ratusan kali kalau mau. Beriman dan mentiadakan apapun kecuali Sang Maha Kuasa, itulah ajaran agama yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah. Meniadakan apapun, karena yang Ada hanyalah Dia.

Hadirnya seluruh nabi, bergantinya zaman di manapun, dari nabi ke nabi memiliki tujuan untuk menyampaikan ajaran yang sama, yaitu Tauhid. Silakan percaya atau tidak, yang atheis pasti tidak, tapi tidak masalah, bahwa Iman akan menuntun manusia menuju jalan yang terang, menggeser mereka dari kegelapan, dan membawa hidup yang lebih baik. Keimanan.
Seluruh Nabi diperintahkan untuk menegakkan kalimat laa ilaha ilallah, melalui bahasa kaumnya masing-masing.

Individualitas Beriman

Iman itu individualitas, Tuhan akan kamu temukan dengan caramu sendiri, dengan pemahamanmu sendiri. Orang yang mengajarimu hanya memantik api pencarianmu. Jangan dewakan dia, apalagi menganggapnya sebagai sumber kebenaran. Al Quran sendiri yang mengatakan bahwa setiap orang akan ditanya pertanggung jawabannya masing-masing, orang per-orang. Ini sudah sangat menunjukkan bahwa iman itu dicari oleh masing-masing diamalkan oleh masing-masing dan dipahami oleh masing-masing.

Satu hal yang penting dalam beriman dan Tauhid adalah Jangan ada penyamaan persepsi. Setiap orang berhak mepersepsi keimanan sesuai dengan caranya masing-masing. Setiap nabi diutus untuk membawa cahaya, membawa ajarannya masing-masing. Nabi yang diturunkan ke suatu kaum di suatu zaman, mengindikasikan adanya kegelapan yang harus diterangi pada saat itu. Yang mengikuti cahayanya akan sampai ke tempat tujuan, yaitu pos estafet pergantian pemegang cahaya yang berikutnya. Pengikut nabi sebelumnya juga harus mengikut nabi setelahnya, karena pada dia cahaya itu tengah dibawa, hingga datang nabi yang menutup seluruh nabi, menandakan kegelapan hampir berakhir.

Ketika kegelapan hilang sudah tidak dibutuhkan lagi cahaya, yang dibutuhkan hanya peta, peta itu yang harus dibawa oleh  masing-masing orang. Peta itulah Al Quran, setiap orang memegang Al Qurannya masing-masing, bukan melakukan penyamaan persepsi, melainkan setiap orang memaksimalkan akalnya untuk memahami Quran.


Dengan begitulah kita melakukan kemandirian beragama, itulah Tauhid, kita menemukan Tuhan, dan mengimaninya, meniadakan yang lain selain diriNya dengan cara kita sendiri. Itulah Tauhid yang sesungguhnya, keberanian untuk hanya mendengarkan Sang Maha Pencipta, bukan manusia lain. Mereka adalah teman yang sama yang juga berusaha mencariNya. Dalam kehidupan, menjadi pembelajar dan terus menerus menemukan hikmah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banner